Monday, March 19, 2012

Teori Komunikasi Antarpribadi

Dalam teori komunikasi antarpribadi terdapat beberapa teori :
- Teori disonansi kognitif
- Teori pertukaran sosial
- Teori komunikasi kelompok
- Teori Keseimbangan Heider
- Teori A-B-X Newcomb
- Teori perbandingan sosial Festinger
- Teori sosiometris (Moreno)
- Teori analisis proses interaksi (Bales)
Kali ini saya akan membahas tentang "Teori A-B-X Newcomb dan Teori Perbadingan Sosial Festinger."


  • TEORI A-B-X NEWCOMB
Teori A-B-X Newcomb ini adalah model komunikasi psikologi sosial yang berusaha memahami komunikasi sebagai cara dimana orang-orang mampu menjaga keseimbangan hubungan mereka dasar pada konsep ini satu sama lain. Menyeimbangkan antara kepercayaan, sikap dan sesuatu yang penting bagi seseorang melalui komunikasi yang bersifat persuasif , menurut Newcomb, jika keseimbangan hubungan terganggu, komunikasi kemudian digunakan untuk memugar kembali hubungan itu. Untuk pembahasan yang lebih sederhananya, model dari Newcomb ini melibatkan 3 unsur, yaitu A dan B yang mewakili dua orang individu yang berinteraksi, dan X sebagai objek pembicaraan.
Saya akan memberikan contoh dari diagram diatas :
A dan B saling menyukai, A sangat cuek terhadap penampilan sedangkan B sangat memperhatikan penampilan (X). 
Dari contoh tersebut dapat disimpulkan sikap A terhadap B dan terhadap X saling bergantungan.


  • TEORI PERBANDINGAN SOSIAL FESTINGER 
Teori perbandingan sosial adalah proses saling mempengaruhi dan perilaku saling bersaing dalam interaksi sosial ditimbulkan oleh adanya kebutuhan untuk menilai diri sendiri dan kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan membandingkan diri dengan orang lain. 

Ada dua hal yang diperbandingkan dalam hubungan ini, yaitu:
a. Pendapat (opinion)
b. Kemampuan (ability)
Perubahan pendapat relatif lebih mudah terjadi daripada perubahan kemampuan.
1. Dorongan untuk menilai pendapat dan kemampuan
Festinger mempunyai hipotesis bahwa setiap orang mempunyai dorongan (drive) untuk menilai pendapat dan kemampuannya sendiri dengan cara membandingkannya dengan pendapat dan kemampuan orang lain. Dengan cara itulah orang bisa mengetahui bahwa pendapatnya benar atau tidak dan seberapa jauh kemampuan yang dimilikinya (Sarwono, 2004).
Festinger juga memperingatkan bahwa dalam menilai kemampuan, ada dua macam situasi, yaitu: Pertama, kemampuan orang dinilai berdasarkan ukuran yang obyektif, misalnya kemampuan mengangkat barbel. Kedua, kemampuan dinilai berdasarkan pendapat. Misalnya, untuk menilai kemampuan pelukis berdasarkan pendapat orang lain.
2. Sumber-sumber penilaian
Orang akan mengagungkan ukuran-ukuran yang obyektif sebagai dasar penilaian selama ada kemungkinan melakukan itu. Namun, jika tidak, maka orang akan menggunakan pendapat atau kemampuan orang lain sebagai ukuran.
3. Memilih orang untuk membandingkan
Dalam membuat perbandingan dengan orang lain, setiap orang mempunyai banyak pilihan. Namun, setiap orang cenderung memilih orang sebaya atau rekan sendiri untuk dijadikan perbandingan.